Selasa, 01 Maret 2011

Gangguan Otak Bisa Di Atasi Dengan Berjalan 10km


Sebuah penelitian mengatakan berjalan kaki minimal enam mil (setara 10 kilometer) hingga sembilan mil (15 kilometer) dalam seminggu diyakini dapat melindungi penyusutan kinerja otak di hari tua, yang pada gilirannya dapat mengurangi masalah memori atau pikun.

"Sejauh ini, kami selalu mencari obat atau pil ajaib apa yang bisa menolong manusia dalam menghadapi gangguan otak," kata Kirk Erickson, asisten profesor psikologi University of PIttsburgh yang memimpin studi terkait.

"Tapi, untuk mencari solusi gangguan otak sebenarnya jauh lebih sederhana dari itu. Hanya dengan berjalan teratur, ditambah dengan aktivitas fisik, Anda dapat mengurangi kemungkinan terserang pikun dan penyakit Alzheimer, sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil.

Sekadar diketahui, laporan riset tersebut didukung oleh US National Institute on Aging, yang dipublikasikan online pada 13 Oktober silam.

Erickson dan rekannya memulai pelacakan pola aktivitas fisik dan kognitif  pada 300 orang dewasa di tahun 1989. Awalnya, semua partisipan memiliki kesehatan kognitif (pikiran) yang sehat. Rata-rata partisipan yang dipilih berusia 78 tahun dan sekitar dua pertiganya adalah kaum hawa.

Kemudian tim peneliti memetakan berapa blok yang ditempuh tiap orang dalam waktu seminggu. Sembilan tahun kemudian, mereka diberi tahu teknologi scan resolusi tinggi MRI untuk mengukur ukuran otak. Semuanya dianggap mempunyai kognitif di batas ambang normal.

Namun, empat tahun setelah itu, hasil uji menunjukkan setidaknya sepertiga partisipan mengalami penurunan kognitif ringan atau demensia.

Dengan mengkorelasikan kesehatan kognitif, hasil scan otak, dan pola berjalan peserta, tim riset menemukan bahwa peserta yang secara fisik aktif menunjukkan penurunan risiko paling rendah terkena gangguan kognitif.

Secara lebih spesifik, mereka menyimpulkan bahwa seseorang yang lebih sering berjalan, akan semakin kecil kemungkinannya terkena gangguan pada hippocampus, bagian dari otak besar yang terletak di lobus temporal. Bagian ini berperan besar pada memori dan navigasi ruang otak.

READ MORE - Gangguan Otak Bisa Di Atasi Dengan Berjalan 10km

Waria versi Afrika

Afrika yang dikenal dengan ras negroid,dan juga dikenal dengan fisik kuat dan gagah.Ternyata ada juga yang transgender,atau yang lebih dikenal di negara kita dengan sebutan waria.Dibawah ini merupakan waria versi afrika.

























READ MORE - Waria versi Afrika

Jari Bisa Deteksi Penyakit


Apakah pernah memerhatikan ukuran lima jari tangan Anda? Perbandingan ukuran panjang jari manis dan telunjuk dapat menjadi media untuk mendeteksi risiko penyakit. Mulai dari demam, nyeri sendi, hingga jantung dan kanker. 

Ahli biologi University of Swansea, Profesor John Manning, mengatakan, perbedaan panjang jari manis dan telunjuk berhubungan dengan kadar hormon dalam tubuh, yang memengaruhi risiko penyakit. 

Berdasar analisisnya, panjang jari tangan ditentukan sejak di dalam rahim. Hormon seks pria atau testosteron, mendorong pertumbuhan jari manis, dan hormon wanita atau estrogen mendorong pertumbuhan jari telunjuk.

"Saat usia kandungan 8-12 minggu, tingkat hormon-hormon seks ini memiliki dampak besar pada perkembangan otak, jantung dan organ lain," kata Profesor Manning, yang menuliskan hasil studinya dalam sebuah buku berjudul 'The Finger Ratio'.

Berikut analisis Profesor Manning terhadap tingkat risiko kesehatan berdasar perbandingan telunjuk dan jari manis, seperti dikutip dari Daily Mail:

Flu
Berdasar penelitian yang melibatkan 200 mahasiswa di University of Liverpool, mereka yang memiliki jari manis lebih panjang lebih rentan menderita flu dan penyakit umum lainnya, dibandingkan mereka dengan jari telunjuk lebih panjang. 

Kanker prostat
Hasil studi British Journal of Cancer memperlihatkan bahwa pria dengan ukuran jari manis lebih panjang dari telunjuk memiliki risiko lebih tinggi mengidap kanker prostat. Mayoritas pria memang memiliki ukuran jari manis panjang, tapi tak ada salahnya menjadikan hasil studi ini sebagai alarm kewaspadaan.

Gangguan jantung
Risiko gangguan jantung juga bisa terdeteksi lewat perbandingan ukuran kedua jari itu. Berdasar sebuah studi pada 2001, pria dengan ukuran telunjuk lebih pendek daripada jari manis memiliki risiko lebih rendah terserang penyakit jantung. 

Osteoarthritis
Berdasar penelitian Nottingham University, mereka yang memiliki jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk, dua kali lebih mungkin terserang radang sendi lutut. Penelitian ini mengukur jari tangan 2.000 orang. "Hasil ini telah direplikasi dalam studi lain dengan skala besar di Amerika," kata Profesor Manning.

Anorexia
"Ada beberapa bukti bahwa penderita anoreksia cenderung memiliki jari manis yang sangat panjang," kata Profesor Manning. 

Autisme
Ada beberapa bukti bahwa jari manis yang lebih panjang dihubungkan dengan peningkatan risiko memiliki ADHD atau menjadi autis. Tiga penelitian telah menunjukkan kondisi ini untuk autis dan empat studi telah menunjukkan ini untuk ADHD.

Pecandu alkohol
"Kabar buruknya adalah bahwa orang dengan jari manis lebih panjang lebih cenderung minum alkohol," kata Profesor Manning. "Tapi, jangan khawatir, penelitian terbaru di Swansea University menemukan jari manis panjang cenderung tidak tertarik untuk merokok."

Kesuburan
Pada 2002, Profesor Manning, peneliti yang fokus melakukan studi tentang jari meluncurkan buku yang mengungkap bahwa pria dengan jari manis panjang memiliki tingkat kesuburan lebih tinggi dibandingkan pria dengan jari manis lebih pendek.


READ MORE - Jari Bisa Deteksi Penyakit

Wanita Lebih Suka Berinteraksi Dengan Kucing Dari Pada Dengan Pria


Hubungan antara kucing dengan tuannya, khususnya pemilik kucing wanita, bisa begitu erat.
Saking eratnya, hubungan antara keduanya bahkan nyaris menyamai hubungan antara manusia dengan manusia
Menurut sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal Behavioural Processes, hubungan kucing dengan pemilik wanita bukan hanya sebatas hubungan ketergantungan binatang untuk memperoleh makanan semata. 
Seperti dikutip dari situs Discovery News, dalam riset yang dipimpin oleh Kurt Kotrschal dari Konrad Lorenz Research Station dan University of Vienna, para peneliti merekam interaksi antara 41 kucing dan pemilikinya untuk kemudian dianalisa.
Setiap tindak-tanduk keduanya, baik kucing maupun pemiliknya, diamati dan dicatat. Kepribadian kucing dan pemiliknya juga diuji pada sebuah tes terpisah. 
Para ilmuwan menyimpulkan kucing dan pemiliknya saling mempengaruhi satu sama lain, dengan kuat. Mereka seringkali saling mengontrol perilaku masing-masing pihak. 
Wanita extrovert dan kucing muda yang aktif merupakan pasangan yang sangat klop. Dalam hubungan ini, kucing tak jarang menunjukkan pertanda yang halus untuk menunjukkan sinyal untuk kontak pertemanan dengan menaikkan ekornya.
Sementara itu, kucing yang mampu menarik banyak kucing lainnya, biasanya akan cenderung menarik wanita, tak peduli apakah kucing itu jantan, atau betina.
"Respon baliknya, kucing akan lebih sering mendekati sang pemilik wanita," kata Manuela Wedl, salah satu anggota tim peneliti dari University of Vienna, kepada Discovery.
Tak hanya itu, kucing juga memegang kendali saat mereka sedang diberi makan, atau diurusi oleh pemilik kucing wanitanya. Ini sangat mirip dengan apa yang terjadi pada hubungan anak kecil dengan orang tuanya. Biasanya, pemilik kucing wanita memiliki hubungan yang lebih intens dengan kucing peliharaannya, daripada pemilik kucing pria. 
Kucing ternyata juga akan mengingat kebaikan dari manusia dan akan membalas kebaikan itu. Bila sang pemilik menuruti keinginan kucing, maka kucing itu nantinya akan menuruti keinginan pemiliknya dalam berinteraksi. 
"Hubungan antara kucing dan manusia melibatkan ketertarikan mutual, kecocokan kepribadian, keasyikan dalam berinteraksi, permainan, kasih sayang, dan dukungan sosial," kata Dorothy Gracey, anggota tim riset lainnya. 
READ MORE - Wanita Lebih Suka Berinteraksi Dengan Kucing Dari Pada Dengan Pria

Saat Ini Laut Dibanjiri Ikan Teri,Karena Ulah Manusia


Bagi ikan besar seperti tuna dan cod, seabad terakhir bukanlah masa-masa yang menggembirakan. Populasi mereka menukik tajam akibat penangkapan yang berlebihan. Menurut penelitian terbaru terhadap ekosistem kelautan di seluruh dunia, di saat yang sama, populasi ikan yang lebih kecil seperti sarden dan ikan teri melonjak hingga 130 persen.

Perubahan yang terjadi pada keseimbangan rantai makanan ini merupakan perubahan yang tidak sehat apalagi untuk jangka panjang. Para peneliti menyatakan, salah satu cara untuk mengatasinya adalah perubahan pola konsumsi manusia, dari memakan ikan yang menjadi predator ke spesies lain yang ada di bagian bawah rantai makanan.

Sekelompok peneliti yang dipimpin Villy Christensen dari University of British Columbia, Kanada menganalisa sekitar 200 jaringan makanan di seluruh dunia. Menggunakan pemodelan, mereka menggambarkan ekosistem kelautan di berbagai periode waktu dari tahun 1880 sampai 2007.

Seperti dikutip dari Sciencemag, 1 Maret 2011, Christensen dan timnya kemudian memperkirakan distribusi biomassa di dalam ekosistem – misalnya berapa ton jumlah tuna atau udang – lalu mengekstrapolasi untuk menghitung jumlahnya di seluruh samudera.

Hasilnya, meski pada saat ini peneliti belum bisa menentukan jumlah absolutnya, biomassa ikan berukuran besar telah menurun hingga dua pertiganya dalam 100 tahun terakhir. Dalam 40 tahun belakangan, biomassa mereka turun hingga 54 persen meski penurunannya tidak separah pada 2 dekade lalu.

Yang tidak mengherankan, ikan-ikan yang sebelumnya menjadi mangsa ikan-ikan besar mengalami peningkatan. Biomassa mereka meningkat hingga 0,85 persen per tahun. Dan selama abad terakhir, angkanya telah berlipat ganda.

“Samudera kini sudah sangat berbeda,” kata Christensen. “Di banyak tempat, ikan kecil ini masih menjadi makanan, namun di kawasan seperti barat daya Afrika dan tempat lain, pemangsa ikan-ikan kecil itu sudah tergantikan,” ucapnya.

Christensen menyebutkan, dengan memilih makan sarden, ikan teri dan sejenisnya dan tidak memakan ikan todak, misalnya, manusia bisa menyelamatkan populasi para predator utama di rantai makanan yang kini kian menyusut.

Perubahan pada biomassa laut ini, kata Michael Hirshfield, Chief Scientist of the Advocacy Group Oceana, Washington, sangatlah mengkhawatirkan. “Populasi ikan kecil cenderung meledak dan kemudian rusak – membuat ekosistem menjadi tidak stabil,” ucapnya. “Apalagi jika predator yang ada di atasnya telah musnah,” ucapnya.

READ MORE - Saat Ini Laut Dibanjiri Ikan Teri,Karena Ulah Manusia