Jumat, 05 Desember 2014

Perjuangan Sunan Gunung Jati Melawan Penjajah Portugis

Sering kali terjadi kerancuan antara nama fatahillah dengan syarif hidayatullah; yang bergelar sunan gunung jati. Orang menganggap fatahillah dan Syatif Hidayatullah adalah satu orang, namun sebenarnya adalah dua orang. Syarif hidayatullah adalah cucu raja pajajaran dan seorang penyebar agama islam di jawa barat yang kemudian disebut sunan gunung jati. Sunan gunung jati foto Sementara itu fatahillah adalah seorang pemuda pasai yang dikirim oleh Sultan Trenggana, raja demak, untuk membantu sunan gunung jati berperang melawan penjajah portugis. Bukti bahwa fatahillah bukan sunan gunung jati adalah makam yang berada di dekat sultan gunung jati bertulis tubagus pasai fathullah, fatahillah, atau faletehan, menurut lidah orang portugis. Syarif hidayatullah dan ibunya, syarifah Muda’im, datang ke negeri caruban Larang, jawa barat, pada tahun 1475 m. Setelah mereka singgah dulu di gujarat dan pasai untuk menambah pengalaman. Ketika mereka sampai di negeri caruban larang, keduanya disambut gembira oleh pangeran cakrabuana dan keluarganya. Ketika ibu dan anak itu tiba di caruban larang, syekh kahfi sudah wafat dan dimakamkan di pasambangan. Dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya, syarif muda’im minta diizinkan tinggal di pasambangan atau guungjati, cirebon. Syarifah muda’im dan putranya, syarif hidayatullah, menrsuhkan usaha syekh kahfi dengan membuka pesantren gunung jati. Maka, nama syarif hidayatullah lebih dikenal dengan sebutan sunan gunung jati. Tibalah saat yang ditentukan, yaitu pangeran cakrabuana menikahkan anaknya, Nyi Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Pada tahun 1479 m. Pangeran cakrabuana karena usianya sudah lanjut, menyerahkan kekuasaan negeri caruban larang kepada syarif hidayatullah dengan gelar susuhunan yang berarti orang yang dijunjung tinggi. Pada tahu pertama pemerintahannya, syarif hidayatullah berkunjung ke pajajaran untuk mengunjungi kakeknya, yaitu prabu siliwangi. Sang prabu diajak masuk islam, tetapi tidak mau. Meskipun prabu siliwangi tidak mau masuk islam, ia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama islam di wilayah pajajaran. Kemudian syarif hidayatullah melanjutan perjalanan ke serang, banten. Penduduk serang sudah ada yang masuk islam karena banyak saudagar arab dan gujarat yang sering singgah ke tempat itu. Meskipun demikian, kedataga syarif hidayatullah disambil baik oleh adipati Banten. Bahkan syarif hidayatullah dijodohkan degan putri adipati banten yang bernama nyi kawungten. Dari perkawinan ini, ia dikaruniai dua orang anak, yaitu Nyi rabu winaon dan pangeran sebakingking. Dalam menyebarkan gama islam di tanah jawa, syarif hidayatullah atau sunan gunung jati tidak bekerja sendirian. Ia sering bermusyawarah dengan anggota wali lainnya di masjid demak. Bahkan, ia juga ikut membantu pendirian masjid demak. Dari pergaulannya dengan sultan demak dan para walinya, syarif hidayatullah akhirnya memimpin caruban larang dan mendirikan kesultanan pakungwati. Dan, ia memproklamirkan diri sebagai raja dengan gelar sultan. Dengan berdirinya kesultanan tersebut, cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada pajajaran yang biasanya disalurkan lewat kadipaten galuh. Namun, tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan oleh raja pajajaran. Ia tidak peduli terhadap orang yang berdiri di balik kesultanan cirebon. Maka, ia mengirimkan pasukan prajurit pilihan yang dipimpin oleh Ki jagabaya. Tugas mereka adalah menangkap syarif hidayatullah yang dianggap telah lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan pajajaran. Tapi, usaha ini tidak berhasil, ki jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke pajajaran. Mereka masuk islam dan menjadi pengikut syarif hidayatullah. Maka pengaruh kesultanan pakungwati semakin bertambah besar karena prajurit dan perwirapilihan pajajaran bergabung ke cirebon. Berbagai daerah lain, seperti surantaka, japura, wana giri dan telaga, juga menyatakan diri menjadi wilayah kesultanan pakungwati di cirebon. Setelah pelabuhan muara jati diperluas, maka semakin bertambah besar pengaruh kesultanan pakungwati. Banyak pedagang besar negeri asing yang datang menjalin pershabatan, di antaranya negeri tiongkok. Bahkan salah seorang keluarga istana cirebon menikah dengan pembesar negeri cina yang berkunjung ke cirebon, yaitu Ma Huan. Maka, jalinan antara cirebon dan negri cina semakin erat. Sunan gunung jati juga pernah diundang ke negeri cina dan menikah dengan putri kaisar cina yang bernama putri Ong tien. Pada saat itu, kaisar cina yang berasal dari dinasti ming jua bragama islam. Dengan perkawinan itu sang kaisar ingin menjadi hubungan baik antara cirebon dan negeri cina. Hal ini ternyata menguntungkan bangsa cina dalam dunia perdagangan. Setelah menikah dengan sunan gunung jati, maka putri ong tien diganti namannya menjadi nyi ratu rara semanding. Tak salah, jika istana dan masjid cirebon dihiasai dan diperluas dengan berbagai motif hiasan dinding dari negeri cina. Pembangunan masjid itu melibatkan banyak pihak, antara lain para wali sanga dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh raden patah, penguasa demak. Dalam pembangunan itu, sunan kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan soko tatal sebagai lambat persatuan umat. Setelah sunan gunung jati selesai membangun masjid, ia memerintahkan membangun jalan raya yang menghubungkan cirebon dengan berbagai daerah kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan islam di seluruh tanah pasundan. Prabu siliwangi hanya bisa menahan diri terhadap kembangan wilayah cirebon yang semakin luas itu. Bahkan, wilayah pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit. Pada tahun 1511m, malaka diduduki oleh bangsa portugis. Selanjutnya mereka ingin meluaskan kekuasaan ke pulau jawa. Pelabuhan sunda kelapa menjadi sasaran mereka untuk menancapkan kuku penjajahan. Demak bintoro tahu bahaya besar yang mengancam kepulauan nusantara. Karena itu, raden patah mengirim adipati unus atau pangeran sebrang lor untuk menyerang portugis di malaka. Tapi usaha itu tidak membuahkan hasil karena persenjataan portugis terlalu lengkap. Dan mereka terlanjur mendirikan benteng yang kuat di malaka. Ketika adipati unus kembali ke jawa, seorang pejuang dari pasai (malaka) bernama fatahillah ikut berlayar ke pulau jawa. Sebab, pasai sudah tidak aman bagi mubaligh seperti fatahillah. Karena itu, ia ingin menyebarkan agama islam di tanah jawa. Raden patah wafat pada tahun 1518 M, lalu kedudukannya digantikan oleh adipati unus atau pangeran sebrang lor. Ketika ia baru saja dinobatkan, ternyata muncul berbagai pembrontakan dari daerah pedalaman. Saat memadamkan pembrontakan itu, pangeran sabrang lor meninggal dunia dan gugur sebagai pejuang syuhada. Pada tahun 1521 M, sultan demak dipegang oleh raden trenggana, putra raden patah yang ketiga. Di dalam pemerintahannya, fatahillah diangkat sebagai panglima perang yang akan ditugaskan mengusir portugis di sunda kelapa. Fatahillah yang pernah berpengalaman melawan portugis di malaka narus mengangkat senjata lagi sekarang. Dari demak, awalnya pasukan yang dipimpinnya menuju cirebon. Kemudian, pasukan gabungan demak dan cirebon itu menuju sunda kelapa yang sudah dijarah portugis dengan bantuan pajajaran. Mengapa pajajaran membantu Portugis? Sebab, pajajaran merasa iri dengan dendam terhadap perkembangan wilayah cirebon yang semakin luas. Ketika portugis bersedia membantu merebut wilayah pajajaran yang dikuasai cirebon, maka raja pajaran menyetujuinya. Lalu mengapa pasukan gabungan demak dan cirebon tidak dipimpin oleh sunan gunung jati? Sebab, sunan gunung jati tahu bahwa ia harus berperang melawan kakeknya sendiri. Maka, ia memerintahkan fatahillah untuk memimpin serbuan itu. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dari pengalaman bertempur di malaka, fatahillah tahu titik lemah tentara dan siasat portugis. Dan setiap serangan pasukan demak-cirebon selalu membawa hasil gemilang. Akhirnya portugis dan pajajaran kalah. Lalu portugis kembali ke malaka. Sementara itu, pasukan pajajaran tercerai berai tidak menentu. Selanjutnya, fatahillah ditugaskan mengamankan baten dari gangguan para pembrontak yaitu sisa sisa pasukan pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan karena fatahillah dibantu putra sunsn gunung jati yang bernama pangeran sebakingking. Di kemudian hari, pangeran sebakingking menjadi penguasan Banten dengan gelar pangeran Hasanuddin. Kemudian, fatahillah diangkat menjadi rasa oleh segenap adipati di sunda kelapa. Dan, ia mengubah nama sunda kelapa menjadj jayakarta. Sebab sunan gunung jati selaku sultan cirebon telah memerintahkannya untuk meluaskan daerah cirebon agar islam lebih merata di jawa barat. Fatahillah berturut-turut dapat menaklukkan daerah telaga, sebuah negara kecil yang dikuasai oleh raja Budha bernama prabu pacukuman. Kemudian, kerajaan galuh hendak meneruskan kebesaran pajajaran lama. Raja galuh ini bernama prabu cakraningrat dengan senopatinya yang terkenal, yaitu aria kiban. Tapi, galuh tidak dapat membendung kekuatan cirebon. Akhirnya, raja dan senopatinya tewas dalam peperangan itu. Kemenangan demi kemenangan berhasil diraih fatahillah. Akhirnya, sunan gunung jati memanggil ulama dari pasai itu ke cirebon. Sunan gunung jati menjodohkan fatahillah dengan ratu wulung ayu. Sementara itu, kedudukan fatahillah selaku adipati jayakarta diserahkan kepada ki bagus angke. Ketika usia sunan gunungjati sudah semakin tua, maka ia mengangkat putranya, yaitu pangeran muhammad arifin, sebagai sultan cirebon dengan gelar pasara pasarean. Dan fatahillah yang sering disebut tugabgus atau kiai bagus pasai diangkat menjadi penasehat sang sultan. Sunan gunung jati lebih memusatkan diri pada penyiaran dakwah islam di gunung jati atau pesantren pasambangan. Namun, lima tahun sejak pengangkatannya, pangeran muhammad arifin mendadak meninggal dunia mendahului ayahnya. Kemudian, kedudukan sultan diberikan kepada pangeran sebakingking yang bergelar sultan maulana hasanuddin dengan pemerintahan di banten. Sementara itu, sultan cirebon hanya bergelar adipati cabon I walaupun cirebon masih tetap digunakan sebagai kesultanan. Dan, adipati carbon I ini adalah menantu fatahillah yang diangkat sebagai sultan cirebon oleh sunan gunung jati. Meninggalnya Sunan Gunung jati Sunan gunung jati wafat pada tahun 1568 M dalam usia 120 tahun. Ia dimakamkan di cirebon bernama dengan ibu dan pangeran cakrabuana. Dia tahun kemudia, kiai bagus pasai atau fatahillah juga meninggal dunia. Ia juga dimakamkan di tempat yang sama. Makam kedua tokoh hebat tersebut berdampingan tanpa ada perantara apapun. SUMBER
READ MORE - Perjuangan Sunan Gunung Jati Melawan Penjajah Portugis

Sejarah Sembilan Wali / Walisongo Lengkap Dengan Gambar Foto Close Up

Walisongo berarti Sembilan orang Wali Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid. Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal. Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan. Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.
Maulana Malik Ibrahim (1) Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik. Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
Sunan Ampel (2) Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang) Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.” Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
Sunan Giri (3) Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma). Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai. Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau. Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
Sunan Bonang (4) Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
Sunan Kalijaga (5) Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
Sunan Gunung Jati (6) Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii). Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
Sunan Drajat (7) Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
Sunan Kudus (8) Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
Sunan Muria (9) Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti. SUMBER
READ MORE - Sejarah Sembilan Wali / Walisongo Lengkap Dengan Gambar Foto Close Up

Kisah Keramat Mata Air Warisan Kiai Asror

BANGKALAN - Kabar gembira datang dari Madura untuk para orangtua yang anaknya memiliki masalah kenakalan remaja. Alangkah baiknya mereka mencoba memberikan minum air Kolla Langgundi dari Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan. Sebab, masyarakat setempat meyakini air yang ada di sana bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti penyakit kulit dan capek-capek. Bahkan, diyakini bisa menyembuhkan kenakalan remaja. Kolla Langgundi sendiri menyerupai kolam yang ukurannya sekira 2 meter x 7 meter. Air yang muncul di Kolla Langgundi, bukan sekedar air biasa. Namun, terdapat keunikan dan keanehan. Meskipun lokasinya berada di pesisir pantai, namun rasa air tersebut tawar, tidak asin. Sehingga bila diminum bisa menyegarkan tubuh. Uniknya, sampai sekarang air di sana tidak pernah kering, meskipun memasuki musim kemarau. Lokasi Kolla Langgundi sendiri tidak sulit untuk dijangkau. Pasalnya, hanya berjarak 3 kilometer dari pusat perkotaan Bangkalan. Disamping itu, juga sudah dipasang petunjuk untuk menuju lokasi. Menurut keterangan yang ada di lokasi, Kolla Langgundi merupakan peninggalan dari Kiai Asror, yang merupakan kakek dari Syaichona Cholil Bangkalan. Konon Kolla Langgundi dijadikan tempat berwudhu Kiai Asror. Kiai Asror Langgundi disebut juga Bujuk Langgundi karena merupakan pewaris Rosululloh SAW. Menurut silsilahnya, Kiai Asror masih keturunan Nabi yang ke-26. Ceritanya, mata air Langgundi muncul dari tongkat Kiai Asror yang ditancapkan ke bumi. Sedangkan nama Langgundi adalah suatu Dusun. Kiai Asror lahir di Banten dan besar di Langgundi sampai wafat. Lalu makamnya di komplek Martajazah berjejer dengan makam Kiai Abdul Latif. Dan Kiai Abdul Latif sendiri ayah dari Syaichona Kholil, yang peristirahatan terakhirnya juga di Komplek Pemakamann Astah Martajazah. Sampai detik ini keberadaan Kolla Langgundi masih bagus. Masyarakat setempat merawat dan menjaga dengan baik. Banyak warga dari luar Madura yang datang ke sana, seperti dari Banten dan wilayah lain. Sesampai di lokasi, masyarakat mandi, minum dan berwudlu. Kemudian salat dan mengaji di musala dekat Kolla Langgundi. Beberapa di antaranya yang datang kesana memiliki pengalaman ghaib. Dimana sembuh dari kelumpuhan, setelah meminum sumber mata air Kolla Langgundi. Beberapa kisah juga menyebutkan bahwa pernah ada salah seorang pengunjung yang berhasil lulus ujian akademik, setelah bertirakat dengan memanjatkan doa dan ritual dzikir di tempat yang dikenal mustajabah itu. Bahkan, ceritanya dulu Kolla Langgundi juga dijadikan tempat memandikan santrinya yang nakal oleh Kiai Asror. Kemudian dikenal bisa menyembuhkan anak remaja yang nakal. Disamping itu, juga diyakini bisa menyembuhkan penyakit kulit seperti gatal-gatal. "Saya sering datang ke sini untuk mandi dan minum air Kolla Langgundi. Rasanya segar, tidak asin walaupun berada di daerah pesisir. Padahal, air sumur warga sekitar rasanya asin. Setelah itu sholat dan mengaji," terang salah seorang warga yang datang ke Kolla Langgundi, Fauzan, Minggu (8/6/2014). Menurut Fauzan, dirinya datang ke sana ingin mendapat karomah dari Kiai Asror dan diberi kesembuhan oleh Allah SWT atas penyakit yang diderita. Dia menderita penyakit gatal-gatal. "Setelah meminum air di sini terasa enak badan ini. Secara medis air juga bagus bagi kesehatan tubuh manusia," pungkas Fauzan. SUMBER
READ MORE - Kisah Keramat Mata Air Warisan Kiai Asror

Karomah Syeikh Khona Kholil Bangkalan (Waliullah)

Berguru Dalam Mimpi Pada waktu Syeikh Kholil masih muda, ada seorang Kiai yang terkenal di daerah Wilungan, Pasuruan bernama Abu Darrin. Kealimannya tidak hanya terbatas di lingkungan Pasuruan, tetapi sudah menyebar ke berbagai daerah lain, termasuk Madura. Kholil muda yang mendengar ada ulama yang mumpuni itu, terbetik di hatinya ingin menimba ilmunya. Setelah segala perbekalan dipersiapkan, maka berangkatlah Kholil muda ke pesantren Abu Darrin dengan harapan dapat segera bertemu dengan ulama yang dikagumi itu.Tetapi alangkah sedihnya ketika dia sampai di Pesantren Wilungan, ternyata Kiai Abu Darrin telah meninggal dunia beberapa hari sebelumnya. Hatinya dirundung duka dengan kepergian Kiai Abu Darrin. Namun karena tekad belajarnya sangat menggelora maka Kholil segera sowan ke makam Kiai Abu Darrin. Setibanya di makam Abu Darrin, Kholil lalu mengucapkan salam lalu berkata: bagaimana saya ini Kiai, saya masih ingin berguru pada Kiai, tetapi Kiai sudah meninggal desah Kholil sambil menangis. Kholil lalu mengambil sebuah mushaf Al Quran. Kemudian bertawassul dengan membaca Al Quran terus menerus sampai 41 hari lamanya.Pada hari ke-41 tiba-tiba datanglah Kiai Abu Darrin dalam mimpinya. Dalam mimpi itu, Kiai Abu Darrin mengajarkan beberapa ilmunya kepada Kholil. Setelah dia bangun dari tidurnya, lalu Kholil serta merta dapat menghafal kitab Imriti, Kitab Asmuni dan Alfiyah. Di Datangi Macan Suatu hari di bulan Syawal. Kiai Kholil tiba-tiba memanggil santrinya. Anak-anakku, sejak hari ini kalian harus memperketat penjagaan pondok pesantren. Pintu gerbang harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok kita ini.” Kata Syeikh Kholil agak serius. Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera para santri mempersiapkan diri. Waktu itu sebelah timur Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup lebat dan angker. Hari demi hari, penjagaan semakin diperketat, tetapi macan yang ditungu-tunggu itu belum tampak juga. Memasuki minggu ketiga, datanglah ke pesantren pemuda kurus, tidak berapa tinggi berkulit kuning langsat sambil menenteng kopor seng. Sesampainya di depan pintu rumah SyeikhKholil, lalu mengucap salam. Mendengar salam itu, bukan jawaban salam yang diterima, tetapi Kiai malah berteriak memanggil santrinya ; Hey santri semua, ada macan....macan.., ayo kita kepung. Jangan sampai masuk ke pondok.” Seru Syeikh Kholil bak seorang komandan di medan perang.Mendengar teriakan Syeikh kontan saja semua santri berhamburan, datang sambil membawa apa yang ada, pedang, clurit, tongkat, pacul untuk mengepung pemuda yang baru datang tadi yang mulai nampak kelihatan pucat. Tidak ada pilihan lagi kecuali lari seribu langkah. Namun karena tekad ingin nyantri ke Syeikh Kholil begitu menggelora, maka keesokan harinya mencoba untuk datang lagi. Begitu memasuki pintu gerbang pesantren, langsung disongsong dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga keesokan harinya. Baru pada malam ketiga, pemuda yang pantang mundur ini memasuki pesantren secara diam-diam pada malam hari. Karena lelahnya pemuda itu, yang disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya tertidur di bawah kentongan surau.Secara tidak diduga, tengah malam Syeikh Kholil datang dan membantu membangunkannya. Karuan saja dimarahi habis-habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah Syeikh Kholil. Setelah berbasa-basi dengan seribu alasan. Baru pemuda itu merasa lega setelah resmi diterima sebagai santri Syeikh Kholil. Pemuda itu bernama Abdul Wahab Hasbullah. Kelak kemudian hari santri yang diisyaratkan macan itu, dikenal dengan nama KH. Wahab Hasbullah, seorang Kiai yang sangat alim, jagoan berdebat, pembentuk komite Hijaz, pembaharu pemikiran. Kehadiran KH Wahab Hasbullah di mana-mana selalu berwibawa dan sangat disegani baik kawan maupun lawan bagaikan seekor macan, seperti yang diisyaratkan Syeikh Kholil. SANTRI MIMPI DENGAN WANITA Dan diantara karomahnya, pada suatu hari menjelang pagi, santri bernama Bahar dari Sidogiri merasa gundah, dalam benaknya tentu pagi itu tidak bisa sholat subuh berjamaah. Ketidak ikutsertaanBahar sholat subuh berjamaah bukan karena malas, tetapi disebabkan halangan junub. Semalam Bahar bermimpi tidurdengan seorang wanita. Sangat dipahami kegundahan Bahar. Sebab wanita itu adalah istri Kiai Kholil, istri gurunya. Menjelang subuh, terdengar Kiai Kholil marah besar sambil membawa sebilah pedang seraya berucap:“Santri kurang ajar.., santri kurang ajar.....Para santri yang sudah naik ke masjid untuk sholat berjamaah merasa heran dan tanda tanya, apa dan siapa yang dimaksud santri kurang ajar itu. Subuh itu Bahar memang tidak ikut sholat berjamaah, tetapi bersembunyi di belakang pintu masjid.Seusai sholat subuh berjamaah, Kiai Kholil menghadapkan wajahnya kepada semua santri seraya bertanya ; Siapa santri yang tidak ikut berjamaah?” Ucap Kiai Kholil nada menyelidik.Semua santri merasa terkejut, tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Para santri menoleh ke kanan-kiri, mencari tahu siapa yang tidak hadir. Ternyata yang tidak hadir waktu itu hanyalah Bahar. Kemudian Kiai Kholil memerintahkan mencari Bahar dan dihadapkan kepadanya. Setelah diketemukan lalu dibawa ke masjid. Kiai Kholil menatap tajam-tajam kepada bahar seraya berkata ; Bahar, karena kamu tidak hadir sholat subuh berjamaah maka harus dihukum. Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren dengan petok ini Perintah Kiai Kholil. Petok adalah sejenis pisau kecil, dipakai menyabit rumput. Setelah menerima perintah itu, segera Bahar melaksanakan dengan tulus. Dapat diduga bagaimana Bahar menebang dua rumpun bambu dengan suatu alat yang sangat sederhana sekali, tentu sangat kesulitan dan memerlukan tenaga serta waktu yang lama sekali. Hukuman ini akhirnya diselesaikan dengan baik. Alhamdulillah, sudah selesai, Kiai Ucap Bahar dengan sopan dan rendah hati. Kalau begitu, sekarang kamu makan nasi yang ada di nampan itu sampai habis, Perintah Kiai kepada Bahar.Sekali lagi santri Bahar dengan patuh menerima hukuman dari Kiai Kholil. Setelah Bahar melaksanakan hukuman yang kedua, santri Bahar lalu disuruh makan buah-buahan sampai habis yang ada di nampan yang telah tersedia. Mendengar perintah ini santri Bahar melahap semua buah-buahan yang ada di nampan itu. Setelah itu santri Bahar diusir oleh Kiai Kholil seraya berucap ; Hai santri, semua ilmuku sudah dicuri oleh orang ini ucap Kiai Kholil sambil menunjuk ke arah Bahar. Dengan perasaan senang dan mantap santri Bahar pulang meninggalkan pesantren Kiai Kholil menuju kampung halamannya.Memang benar, tak lama setelah itu, santri yang mendapat isyarat mencuri ilmu Kiai Kholil itu, menjadi Kiai yang sangat alim, yang memimpin sebuah pondok pesantren besar di Jawa Timur. Kia beruntung itu bernama Kiai Bahar, seorang Kiai besar dengan ribuan santri yang diasuhnya di Pondok Pesantren Sido Giri, Pasuruan, Jawa Timur. Orang Arab Dan Macan Tutul Suatu hari menjelang sholat magrib. Seperti biasanya Kiai Kholil mengimami jamaah sholat bersama para santri Kedemangan. Bersamaan dengan Kiai Kholil mengimami sholat, tiba-tiba kedatangan tamu berbangsa Arab. Orang Madura menyebutnya Habib. Seusai melaksanakan sholat, Kiai Kholil menemui tamunya, termasuk orang Arab yang baru datang itu. Sebagai orang Arab yang mengetahui kefasihan Bahasa Arab. Habib menghampiri Kiai Kholil seraya berucap ; Kiai, bacaan Al- Fatihah antum (anda) kurang fasih tegur Habib. Setelah berbasa-basi beberapa saat. Habib dipersilahkan mengambil wudlu untuk melaksanakan sholat magrib. Tempat wudlu ada di sebelah masjid itu. Silahkan ambil wudlu di sana ucap Kiai sambil menunjukkan arah tempat wudlu. Baru saja selesai wudlu, tiba-tiba sang Habib dikejutkan dengan munculnya macan tutul. Habib terkejut dan berteriak dengan bahasa Arabnya, yang fasih untuk mengusir macan tutul yang makin mendekat itu. Meskipun Habib mengucapkan Bahasa Arab sangat fasih untuk mengusir macan tutul, namun macan itu tidak pergi juga.Mendengar ribut-ribut di sekitar tempat wudlu Kiai Kholil datang menghampiri. Melihat ada macan yang tampaknya penyebab keributan itu, Kiai Kholil mengucapkan sepatah dua patah kata yang kurang fasih. Anehnya, sang macan yang mendengar kalimat yang dilontarkan Kiai Kholil yang nampaknya kurang fasih itu, macan tutul bergegas menjauh. Dengan kejadian ini, Habib paham bahwa sebetulnya Kiai Kholil bermaksud memberi pelajaran kepada dirinya, bahwa suatu ungkapan bukan terletak antara fasih dan tidak fasih, melainkan sejauh mana penghayatan makna dalam ungkapan itu. Jawaban Syeikh Kholil kepada tamunya Suatu Ketika Habib Jindan bin Salim berselisih pendapat dengan seorang ulama, manakah pendapat yang paling sahih dalam ayat ‘Maliki yaumiddin’, maliki-nya dibaca ‘maaliki’ (dengan memakai alif setelah mim), ataukah ‘maliki’ (tanpa alif).Setelah berdebat tidak ada titik temu. Akhirnya sepakat untuk sama-sama datang ke Kiyahi Keramat; Kiyahi Khalil bangkalan. Ketika itu Kiyahi yang jadi maha guru para kiyahi pulau Jawa itu sedang duduk didalam mushala, saat rombongan Habib Jindan sudah dekat ke Mushola sontak saja kiyahi Khalil berteriak. Maaliki yaumiddin ya Habib, Maaliki yaumiddin Habib, teriak Kiyahi Khalil bangkalan menyambut kedatangan Habib Jindan. Tentu saja dengan ucapan selamat datang yang aneh itu, sang Habib tak perlu bersusah payah menceritakan soal sengketa Maliki yaumiddin ataukah maaliki yaumiddin itu. Demikian cerita Habib Lutfi bin Yahya ketika menjelaskan perbendaan pendapat ulama dalam bacaan ayat itu pada Tafsir Thabari. Tongkat Syeikh Kholil Dan Sumber Mata Air Suatu hari Kiai Kholil berjalan ke arah selatan Bangkalan. Beberapa santri menyertainya. Setelah berjalan cukup jauh, tepatnya sampai di desa Langgundi, tiba-tiba Kiai Kholil menghentikan perjalanannya. Setelah melihat tanah di hadapannya, dengan serta merta Kiai Kholil menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari arah lobang bekas tancapan Kiai Kholil, memancarlah sumber air yang sangat jernih. Semakin lama semakin besar. Bahkan karena terus membesar, sumber air tersebut akhirnya menjadi kolam yang bisa dipakai untuk minum dan mandi. Kolam yang bersejarah itu sampai sekarang masih ada. Orang Madura menamakannya Kolla Al-Asror Langgundi. Letaknya sekitar 1 km sebelah selatan kompleks pemakaman Kiai Kholil Bangkalan.
READ MORE - Karomah Syeikh Khona Kholil Bangkalan (Waliullah)

Tips Ternak Semut Rang-Rang Yang Bisa Mengubah Hidup

BEBERAPA METODE TERNAK SEMUT RANGRANG Dalam Berternak semut rangrang ada beberapa metode,namun sebagian besar pensuplay Kroto masih menggunakan metode lama (tradisional) adapun metode-metode itu adalah : 1. Metode tradisional Dalam metode ini hampir tidak ada campur tangan manusia secara langsung. Semut dibiarkan berkembang biak sendiri dan manusia hanya mengambil hasilnya. Contohnya; yang sekarang banyak dilakukan oleh pemetik kroto. Dia hanya mencari pohon yang ada sarang semutnya dan mengambil kroto yang ada. Kadang dapat banyak tetapi sering hanya mendapat sedikit hasil per sarang semut rangrang. Jika sarang sudah diambil maka dia harus mencari sarang yang baru agar memperoleh kroto lagi. Kelebihannya: Tidak perlu repot-repot mengurusinya Tanpa perlu memberi makan Tempat sudah tersedia di alam Kekurangannya: Hasil tak dapat diprediksi/perkirakan sebelumnya Masih terpengaruh oleh kondisi cuaca alam Sulit untuk berkembang biak masih Harus mencari ke Hutan hutan 2. Metode Semi Tradisionil Didalam metode ini sudah ada campur tangan manusia. Tetapi hanya sedikit, karena hampir sebagian besar masih menggantungkan alam untuk kelestarian dari semut rangrang. Biasanya yang menggunakan metode ini adalah para pekebun yang memanfaatkan semut untuk menjaga pohonnya agar tidak diserang hama tanaman. Pekebun memberi jalan agar semut pindah dan berkembang ditempat yang baru atau yang diinginkan pekebun. Selain itu pekebun juga memberi makan semut dengan sisa-sisa dapur. Dengan metode ini hasil sudah bisa diperkirakan dan lebih banyak dari metode tradisionil. Kelebihannya: Tempat sudah tersedia di alam Mengurusnya hanya sambilan Kekurangannya: Masih terpengaruh oleh kondisi cuaca alam Sulit untuk berkembang biak Memerlukan waktu yang cukup lama agar berhasil Memerlukan Perhatian Khusus Agar Terhindar dari Predator liar 3. Metode Modern Didalam metode ternak semut rangrang modern hampir tidak ada campur tangan dari alam. Semut hampir 100% tergantung kepada Peternak dalam hal memperoleh tempat tinggal,makanan Dan Asupan Nutrisi. Bahkan semut beranak pinak sampai turun temurun, belum pernah melihat pohon. Contoh metode ini adalah ternak semut rangrang menggunakan Metode yang Dikembangkan Kroto Research Institute Budidaya Semut Rangrang mengunakan metode modern. Kelebihannya: Tidak memerlukan kebun Tidak Memerlukan Tempat Luas Modal Kecil Biaya Perawatan Kecil Hasil sudah bisa di prediksi Masa Panen Bisa Di atur 2 minggu bisa 1 bulan bisa Tidak tergantung dengan kondisi cuaca / alam Semut sudah di lokalisasi sehingga tidak pergi kemana-mana Mudah cara pengelolaannya dan Hasil Panen kroto bersih Menghasilkan Kroto Kwalitas Super Macam-macam Media beserta kelebihan dan kekurangan : 5876473646_ba4e011d91 Bambu KELEBIHAN : Bahan Media Mudah didapat Biaya Pembuatan media kecil KEKURANGAN : Koloni Lama dalam beradaptasi Koloni Lama dalam perkembangbiakan Koloni lama dalam perpindahan ke media yang lain hasil telur kroto kecil-kecil Budidaya-kroto-tanpa-pohon Botol Aqua KELEBIHAN : Bahan Media Mudah Didapat Biaya Pembuatan media Kecil Bisa mengunakan Botol Bekas KEKURANGAN : Berpotensi Koloni Bersarang Diluar media Cara Pemanenan Sulit Sekali Panen harus Pembibitan dari awal Koloni akan sulit dibudidaya lagi setelah satu kali pemanenan Hasil Produksi Telur Tidak maksimal hanya sekali panen Media sering berpindah-pindah ( Ringan ) Koloni suka berpindah-pindah media Cara-budidaya-kroto1 Toples KELEBIHAN : Bisa mengamati Perkembangan koloni setiap saat Pembuatan Media Bisa mengunakan bahan bekas Biaya pembuatan media kecil KEKURANGAN : Koloni lama dalam perkembangbiakan koloni lama dalam pembuatan sarang Pelaksanaan panen dan paska panen sangat Sulit Hanya Sekali panen harus melakukan pembibitan dari awal Masa budidaya yang lama berakibat kerugian biaya produksi dan waktu Memerlukan tempat yang luas Media Sarang Bagi peternak pemula informasi tentang Penentuan media sebagai sarana koloni Semut rangrang membuat sarang Dan berkembangbiak sangatlah penting,Demi Untuk mendapatkan Hasil Panen Kroto yang optimal Pemilihan media Mutlak menjadi syarat utama dalam berbudidaya semut rangrang penghasil kroto ,media yang tepat dan sesuai dengan Karakteristik Semut rangrang, Petani harus memiliki pemahaman mengenai media yang mungkin berbeda-beda dari setiap jenisnya.disini penulis hanya focus pada budidaya semut rangrang mengunakan pipa pvc ( paralon ) karena berdasarkan pengalaman penulis selama beberapa tahun berbudidaya semut rangrang penghasil kroto media yang paling tepat dan efektif adalah paralon. Untuk proses penebaran Bibit mengunakan media PVC ( Paralon ) petani tidak perlu repot-repot melakukan penangganan yang berlebihan,seperti jika mengunakan stoples harus menutup dulu lobang yang dibuat mengunakan solder untuk tujuan akses keluar masuk koloni dengan mengunakan lakban,dan menunggu beberapa jam agar koloni beradaptasi dengan media.tetapi jika mengunakan pipa pvc ( paralon ) petani hanya tinggal menata pipa-pipa yang sudah dipotong tadi ke flock/ rak dan bibit langsung ditebar diatas rak. Hasil produksi telur kroto yang dihasilkan mengunakan pvc lebih banyak dan lebih padat,jika dibandingkan mengunakan media lain. Koloni sangat betah dan merasa nyaman sehingga Perkembang biakan koloni sangat cepat dikarekan media berwarna gelap, Koloni jarang berpindah sarang/media sehingga hasil produksi telur optimal Pasca panen media sanggat mudah untuk dibersihkan Media bisa bertahan lama dan tidak akan rusak dalam kurun waktu 5-10 tahun masa budidaya. Media mempunyai berat yang standar sehinga media tidak akan bergeser atau berpindah disaat koloni sudah penuh . Dalam masa pemanenan media mengunakan pipa pvc sangat mudah dan meminimalisasi kematian koloni pasca panen. Media Sarang mengunakan pvc ( Paralon ) membuat sarang memiliki intensitas cahaya yang konstan yang disukai semut-Semut produktif intensitas cahaya dalam sarang berkisar 0,01-0,06 lm/m2 .sehinga hasil produksi kroto bisa maksimal.
READ MORE - Tips Ternak Semut Rang-Rang Yang Bisa Mengubah Hidup